Lompat ke isi

saat pusara telah mengering

Januari 12, 2012

pesan pendek masuk ke hp saya saat perjalanan menuju bandung pagi tadi, memberi kabar tentang kepulangan ayah kawan saya yang terjadi begitu mendadak. untungnya segala urusan saya di bandung dapat selesai dalam sehari hingga saya bisa segera kembali ke jakarta untuk mengikuti prosesi pemakaman. rasanya ganjil karena baru sekitar seminggu yang lalu saya bertemu beliau dalam kondisi yang segar bugar, kini harus bertemu dalam kondisi yang sangat berbeda. kematian memang selalu menjadi misteri besar yang mustahil dapat terpecahkan sebelum dia sendiri yang datang sesuai tenggat yang telah ditetapkan. mungkin dia datang lima puluh tahun lagi, tapi bisa juga saat ini dia telah berdiri mengintai di balik leher dan siap menerkam begitu anda selesai membaca paragraf ini. siapa yang tau?

tapi beruntung dunia pernah mengenal al-ghazali. ketimbang meratapi kematian, al-ghazali mengajarkan kepada kita bahwa kematian justru adalah awal dari kehidupan yang sesungguhnya. tentu setiap orang bebas untuk memilih percaya atau tidak pada ucapan mahaguru persia tersebut, sebagaimana saya sendiri yang memilih untuk mempercayainya. dan melalui kalimat pendek tadi, al-ghazali telah berhasil menuntun banyak orang untuk lebih bijaksana dalam menyikapi kematian.

di paragraf akhir ini, saat pusara telah mulai mengering, saya berdoa agar kepergian ayah kawan saya bisa mengantarnya pada kehidupan yang jauh lebih mulia dan kekal di sisi Dia Yang Maha Segalanya. serta kepada yang ditinggalkan, agar mereka diberi kesabaran untuk dapat ikhlas menerima apa yang telah digariskan.

kematian kembali menjalankan tugasnya dengan baik hari ini, kepada ayah kawan saya. selanjutnya, mungkin giliran kita.

(masih) ada garuda di dada mereka

Desember 28, 2011

alkisah, lewat drama adu penalti yang ketat, timnas indonesia akhirnya berhasil mengalahkan timnas malaysia pada fase semifinal turnamen junior ASEAN U-15. namun wajah bayu sang kapten justru muram sore itu. kegagalannya mengeksekusi penalti, setelah sebelumnya bermain buruk sepanjang pertandingan, rupanya menjadi penyebabnya. semuanya semakin runyam saat lepas pertandingan, sang pelatih menggeser posisinya sebagai kapten untuk pertandingan final nanti. habis sudah. ban kapten tidak lagi melingkar di lengannya. kini bayu bagai raja yang kehilangan tahtanya.

kira-kira seperti itulah penggalan cerita garuda di dadaku (GDD) 2 yang baru saya simak beberapa hari yang lalu. tokoh bayu adalah representasi ideal bagi jutaan anak penggila sepakbola di negeri ini yang terkadang harus jatuh-bangun demi dapat terus memainkan permainan ini. dalam kasus bayu, dia harus membagi konsentrasi-nya dengan segala persoalan akademis, sekaligus permasalahan pribadi keluarganya, sembari terus menjaga performa-nya di lapangan hijau. hingga pada titik klimaks, bayu hampir menyerah.

di bawah arahan sutradara rudi soedjarwo serta salman aristo sebagai penulis skenario, jalan cerita GDD 2 yang sederhana secara tepat sasaran mampu menunjukkan kita betapa pentingnya faktor kerja keras dalam menjaga mimpi kita agar tetap berpijar. tidak hanya ditunjukkan oleh tokoh bayu, namun juga tokoh pak wisnu, sang pelatih yang rela pasang badan demi mempertahankan idealisme di tengah mencretnya sistem persebepakbolaan indonesia yang rawan akan intervensi berbagai kepentingan politik, yang pada akhirnya membatasi gerak dan fungsi seorang pelatih (bakrie, panigoro, apa kabar?).

kalaupun ada kelemahan pada film-ini, itu terletak pada betapa mudah-nya bayu keluar dari masalah: tiba-tiba berbaikan dengan teman laki-laki ibu-nya. tiba-tiba menyelesaikan permasalahan akademis sekolah dengan brilian. tiba-tiba masuk kembali ke dalam skuad timnas indonesia beberapa saat sebelum pertandingan tanpa mendapat hukuman setelah sebelumnya melakukan serangkaian tindakan indisipliner. tiba-tiba bermain baik di final (dan kembali menjadi pemain kunci) tanpa latihan.

tapi kelemahan di atas tidak-lah penting. GDD 2 bukanlah film rumit dengan plot yang didesain untuk membuat otak keriting. lebih dari itu, melalui perjuangan tokoh bayu (yang diperankan dengan sangat cool oleh emir mahira) dkk, film ini mampu menyalakan kembali semangat kita sebagai manusia indonesia, apapun bidang yang kita geluti. dan di atas itu semua, GDD 2 adalah wujud sahih betapa besar rasa cinta dan harapan yang dimiliki oleh bangsa ini terhadap permainan paling suci di muka bumi yang biasa kita sebut, sepakbola.

Angsa & Serigala – Self Titled

Desember 17, 2011

pembicaraan mengenai siapa mirip siapa, siapa meniru siapa, hingga siapa mencontek siapa, pada banyak kasus seringkali hanya berakhir pada debat melelahkan tanpa arah yang ujung-ujungnya tidak produktif. berbicara mengenai album perdana Angsa & Serigala, saya memutuskan untuk menghindari jebakan itu dengan memilih dan membicarakan tiga lagu terbaik versi saya dari album ini. semoga keputusan ini cukup bijaksana, dan biarlah persoalan teknis kita serahkan pada yang lebih ahli saja.
______

1. TERSENYUMLAH

kalau boleh jujur, lirik lagu ini cheesy luar biasa. meski begitu, cukuplah sekali-dua kali dengar hingga tanpa sadar mulut anda menggumamkan lirik “dan tersenyumlah..tertawalah..biarkan dunia beri warna..” yang memang memiliki nada catchy untuk dinyanyikan. jika suatu saat anda mendapati pasangan anda ngambek, biarkan lagu ini bekerja dan lihatlah mood pasangan anda akan membaik seperti sedia kala.

2. SESAAT YANG AKAN SIRNA

jika anda suka akan meriahnya nuansa hingar bingar, lagu ini mampu menawarkan hal itu dari awal hingga akhir. singkatnya, bagai sekumpulan siswa manis dan terpelajar, yang mendadak lepas kontrol dan mengambil alih keramaian pada malam pesta perpisahan sekolah. “sesaat yang akan sirna” merupakan salah satu lagu terbaik di album ini, dimana pembagian suara vokal pria-wanita serta brass & string section mampu bersenggama dengan proporsi yang sangat pas.

>>LINK VIDEO<<

3. INSPIRASI

lagu paling bising dari keseluruhan 12 lagu yang ada di album ini. pada lagu ini pemain gitar elektrik mereka seolah mengamuk, meminta porsi yang lebih besar -sekaligus lebih bising- di album-album mereka selanjutnya. adalah keputusan brilian menempatkan lagu ini di akhir album.

>>LINK VIDEO<<

______

jika saya boleh berkomentar, penulisan lirik yang mereka kerjakan membuat album ini terasa bagai versi musikal dari mario teguh: tema-tema seputar indahnya dunia, persahabatan, motivasi, ajakan untuk menyanyi, menari, berbahagia dan segala macam hal positif lainnya. mungkin untuk sekali atau dua kali putar tak masalah, namun jika anda memutarnya dalam frekuensi lebih tinggi, kesan yang timbul justru menjengkelkan dan terasa menggurui.

meski begitu, secara keseluruhan album ini terdengar aman-aman saja. dengan musik se-catchy ini, serta kualitas rekaman yang nyaman di telinga, mereka punya peluang untuk merangkul pasar yang lebih luas. diluar itu semua, ada satu hal yang penting untuk digarisbawahi: mereka harus segera menemukan sidik jari musik mereka sendiri, sehingga perdebatan seputar tiru-meniru dan contek-mencontek yang saya singgung di awal, dapat segera diakhiri.

andai demo semudah makan babi atau nggak

Desember 15, 2011

saya punya seorang sahabat, namanya mahdi. beliau adalah batak kristiani yang gemar makan daging babi. sebagai seorang batak yang cerdas sekaligus kristiani yang taat, dia tidak pernah memaksa saya untuk ikut tiap kali beliau hendak makan daging babi. kenapa? karena dia tau saya muslim yang tidak mengkonsumsi daging babi. saya-pun tidak pernah melarang dia untuk berhenti mengkonsumsi daging babi, karena apa yang saya percayai, belum tentu juga dipercayai oleh beliau. berkat sikap saling menghormati, hingga tahun kelima sejak pertama kali kami berkenalan, hubungan kami tetap harmonis tanpa pernah sekalipun bersinggungan akibat perbedaan prinsip yang kami anut.

kehormonisan ini tentu mustahil tercapai, jika yang terjadi adalah sebaliknya.

apa jadinya jika misalnya suatu hari mahdi tiba-tiba mendatangi kosan saya bersama teman-temannya sesama penggemar daging babi dan berorasi menuntut saya untuk mau ikut makan babi bersama mereka. atau sebaliknya, tanpa petir di siang bolong tiba-tiba saya dan teman-teman saya sesama non penikmat daging babi berdemo di depan kosan mahdi untuk menuntut mahdi berhenti menjadikan daging babi sebagai asupan kuliner sehari-hari.

absurd kan?

sebenarnya mahdi dan saya makan untuk tujuan yang sama: mengusir lapar agar tetap hidup sehingga dapat saling menjaga satu sama lain. perbedaannya hanyalah mahdi melakukannya dengan cara mengkonsumsi daging babi, sedangkan saya tidak. selesai. hingga kini kami tetap hidup sehat sentosa sebagaimana tujuan yang kami canangkan bersama, meski dengan cara yang berbeda. tanpa pernah sekalipun mempermasalahkan metode yang kami anut, apalagi mengklaim diri sendiri sebagai pihak yang benar dan yang lain adalah salah.

jadi kalau boleh jujur, agak aneh melihat aksi demo di depan kampus kami tempo hari. saat sekelompok mahasiswa tiba-tiba menggelar orasi untuk menuntut mahasiswa di kampus kami agar mau turun ke jalan bersama mereka, dan dengan sembrononya menyebut kami ‘banci’ dan ‘sampah pendidikan’. lagi pula, kalau kami memang ‘banci’ dan ‘sampah pendidikan’, untuk apa mereka mau repot-repot membuang tenaga membakar keringat di siang bolong demi mengajak kami bergabung dengan mereka? memangnya situ mau gabung sama apa yang situ sebut banci dan sampah masyarakat? lucu ya.

intinya sih, harapan kita mungkin sama. mahasiswa manapun pasti akan muak dengan performa rezim segitiga biru yang busuk dan impoten ini. hanya saja, buat kami demo bukanlah jawaban yang tepat untuk saat ini, yang seolah-olah membuat kami dan mereka terlihat bersebarangan, padahal sebenarnya tidak. terlebih jika dikaitkan dengan almarhum sondang. sebagian besar dari kami menganggap aksi almarhum tidak menyelesaikan masalah apapun, meski di lain sisi kami tetap berempati terhadap kepeduliannya pada negara ini.

sekarang adalah saat yang tepat buat kita untuk saling belajar menghormati opini orang lain. generasi terdahulu gagal melakukan yang satu ini. akan menyedihkan kalau kita hanya menjadi gerombolan anjing yang terjebak pada perangkap yang sama.

kesempatan kedua!

Desember 9, 2011

selalu ada kesempatan pertama untuk segala hal. sayangnya saat kesempatan pertama itu datang, dengan bodohnya lupa saya abadikan. untungnya Tuhan masih bermurah hati dan memberi saya kesempatan kedua, yang kebetulan datang pada 8 desember kemarin. ada dua motif utama yang melahirkan tulisan ini. pertama, saya jengah dengan barisan mahasiswa (termasuk, mungkin, saya sendiri) yang suka protes menentang gaya hidup mewah pemimpin negara ini tanpa berkaca pada perilaku diri mereka sendiri. motif kedua, tentu saja karena saya butuh uang untuk berfoya-foya.

kemungkinan besar tulisan pada foto diatas terlalu sulit untuk dapat terbaca. kalo anda bersedia untuk sedikit meluangkan waktu, tulisan saya bisa dibaca di SINI. kerusakan negara kita tercinta ini berlangsung secara sistemik di luar kuasa akal sehat einstein sekalipun. berpikir bahwa demonstrasi dan protes dapat menyelesaikan itu semua, adalah gagasan terabsurd yang pernah ada sepanjang sejarah dunia akhirat.

kecuali keadaan negara benar-benar genting, masa kuliah menurut saya terlalu berharga untuk dihabiskan dengan berdemo ke senayan, debat kusir, dan lain sebagainya. kalau ada waktu luang, lebih baik dipakai untuk tidur siang saja, karena tentu lebih bermanfaat bagi kesehatan serta metabolisme tubuh. atau bisa juga gunakan untuk belajar. biar cepat lulus.

akhir kata, kamsiah dan terimakasih. salam syuper.

tentang KOIL, dan meraba jejak mereka

November 19, 2011

“kau kira siapa dirimu
bisa membeli hidupku yang rapuh
mengisi hari bekerja dan patuh
bukan menjadi manusia yang tangguh
aku kira siapa diriku mencoba setia dan tunduk padamu
dan kutanya sanggupkah diriku
membawa mimpiku ke dunia yang baru…”

KOIL – “sistem kepemilikan”

julius aryo verdijantoro, akrab disapa otong, bukanlah biduan beroktaf sembilan yang rajin hilir-mudik di progam musik pagi stasiun televisi nasional. dia juga bukan sosok terkenal seantero negeri yang kehidupan pribadinya sanggup memenuhi slot berita di tayangan infotainment. tapi dari tangannya-lah, sistem penulisan lirik paling brilian dalam satu dekade terakhir lahir dan menyelamatkan alam sadar generasi saya. di tangan-nya, realitas dan ambuigitas hanya terpisahkan oleh garis tipis yang barangkali hanya dia sendiri dan Tuhan yang sanggup membedakannya.

dan otong tidak datang sendiri. bersama kawalan penguasa enam senar, arsitek dari seluruh lagu KOIL yang sekaligus juga adiknya sendiri: donnijantoro, mafioso tata-suara: bassis adam vladvamp, dan sang penabuh drum leon legoh, mereka menjelma menjadi KOIL, sebuah kolektif musik paling tangguh di negeri ini, dalam arti sesungguhnya.

saya menyebut KOIL sebagai musisi bajingan. di bawah asuhan mereka, telinga mainstream dan non-mainstream menjadi rukun satu suara. mereka mampu menunjukkan bahwa masih ada tempat bagi kata merdu, bahkan untuk ramuan industrial paling kejam sekalipun. di satu waktu otong hadir sembari menyumpah seluruh isi negara bagai anakan setan penjaga neraka. di waktu lain dia mampu menjelma menjadi sosok paling dramatis yang pernah manusia bisa bayangkan. dulu saya sempat berpikir, dengan musik serupa itu, segmen pendengar seperti apa yang ingin mereka tuju? nyatanya pertanyaan saya salah. mereka sanggup merangkul semuanya.

saya termasuk generasi baru penggemar mereka. saya tidak sempat merasakan efek langsung dari album pertama KOIL karena pada saat yang sama saya masih terlalu kecil untuk itu. album kedua juga nyaris serupa. untungnya saya masih sempat merasakan sisa-sisa kehebohan dari album megaloblast, termasuk saat menyaksikan aksi mereka di mtv indonesia awards, dimana saat itu otong naik ke atas panggung sembari menenteng rantai yang mengikat leher dua orang yang merangkak bagai anjing di sisi kiri dan kanan-nya.

sedangkan album black light shines on, meski tidak seheboh megaloblast , buat saya adalah puncak pencapaian artistik mereka sampai saat ini. di album sebelumnya, mereka yang sibuk dengan diri sendiri, di black light shines on mulai keluar kotak dan membagi visi mereka terhadap realita dunia. jika saya harus mati hari ini dan Tuhan hanya membolehkan saya membawa sepuluh album lokal untuk menemani saya di akhirat sana, maka black light shines on pastilah salah satu yang akan saya bawa.

jika anda melihat dari perspektif industri, KOIL juga sama bajingannya. saat musisi lain sibuk menyerukan kampanye anti pembajakan, dengan santainya mereka melepas black light shines on secara gratis. dan saat beberapa golongan mulai menebar pro-kontra dengan kebijakan album gratis tersebut, KOIL kembali melawan arus dengan merilis versi repackaged dari black light shines on dalam bentuk fisik di bawah naungan nagaswara (tentu saja yang ini tidak gratis). juga saat banyak orang mengelu-elukan mereka sebagai pahlawan scene non-mainstream, mereka justru menggelar kerja sama dengan ahmad dhani serta charly st12 (!). untuk nama yang pertama saya tidak masalah, tapi untuk yang kedua saya masih kaget hingga saat ini. satu hal yang pasti, KOIL tetaplah berdiri di kaki mereka sendiri tanpa pernah perduli dengan omongan orang lain.

empat tahun lebih pasca black light shines on dirilis, dan masih belum ada tanda-tanda kapan album terbaru mereka akan selesai. sebuah majalah franchise amerika menyebut band ini sedang dalam tahap pembuatan album ke-empat, tapi sejujurnya saya takut untuk berharap. melihat rentang waktu yang dibutuhkan antara album pertama ke album kedua, kemudian ke album tiga, rasanya KOIL memang tidak terbiasa untuk terburu-buru dalam menyelesaikan setiap album mereka. dalam tulisannya, seorang jurnalis musik ibu kota memprediksi album mereka paling cepat akan keluar pada tahun 2013. semoga prediksi jurnalis itu salah dan album ke-empat KOIL bisa hadir setahun lebih cepat.

___________________
*foto oleh @agrasuseno

industri!

Oktober 30, 2011

“coba kita main bareng dari empat taun yang lalu syad…”

sepotong kalimat pendek meluncur dari seorang kawan saya waktu malam wisuda, (29/10). bukan kalimat yang perlu ditanggapi serius sebenernya, karena kalimat itu keluar dari mulut orang yang dalam sehari-harinya punya tingkah laku yang juga ga serius (terlebih dia laki-laki). tapi mau nggak mau, dalam momen emosional seperti sekarang, sejumput kecil kalimat spontan bisa membuat anda kepikiran dan kontan berpikir “oia ya..andai gw dari dulu main bareng sama lo, mungkin bakal ada lebih banyak hal untuk kita kenang ya..”

freddie mercury pasti seneng di alam kubur karena mengira momen ini berhasil meng-convert saya jadi gay.

intinya sih, saya tidak menyesal melepas tame impala dan laga milan vs roma demi bisa hadir di rangkaian wisuda kemarin. melihat wajah teman-teman saya yang cerah di hari wisuda, itu jadi semacam viagra yang bikin stamina saya semakin ‘tegang’ untuk segera menyusul kalian. iri selalu ada, tapi apalah artinya. prediksi saya nyatanya salah. ternyata 90% persen yang saya rasakan, adalah perasan ikut bahagia sekaligus terlecut. dan ini bukan omong-kosong tai kucing macam tausiah ustad solmed di stasiun tv ternama. ini sejalan dengan hukum sebab akibat. kalian bekerja lebih keras, maka kalian berhak untuk mencium kelulusan terlebih dahulu.

akhir kata, selamat, sekarang dunia milik kalian. menjadi kapitalis bajingan, antek pemerintah, wiraswastawan berbudi luhur, pengajar legowo yang rela dibayar murah, politisi berhati mulia, konsultan cemerlang, pekerja jujur, bankir syariah, lanjut s2, atau tukang cium pantat aburizal bakrie sekalipun, semua keputusan ada di tangan kalian. apapun jalan yang kita ambil di masa depan, semoga itu adalah garis terbaik yang Tuhan beri untuk kita.

sampai bertemu 9 bulan lagi di sabuga, di stanford international school lagi. semoga saya bisa menyambut kalian di sana. akan sangat menyenangkan jika kalian bisa datang, meski tentu saya akan maklum jika kalian berhalangan.

Viva la MTI et la liberta…HEY!**
_________________

*ditulis 9 jam setelah malam wisuda berahir, dengan mahadewa galau the smiths mengalun di corong speaker
**entah artinya apa. cuma ikut-ikutan saja

koran by heart : kisah tiga anak penghafal kitab

Agustus 22, 2011

mereka adalah nabiollah, rifdha, dan djamil. ketiga anak kecil ini adalah hafiz (penghafal alquran) yang khusus terbang ke mesir untuk mewaliki negara mereka dalam kompetisi membaca alquran tingkat dunia. berasal dari tiga latar belakang geografis yang berbeda, apa yang mereka alami sebelum, sesaat, dan setelah kompetisi itu adalah bumbu sedap yang mewarnai film dokumenter ini dari awal hingga akhir.

nabiollah misalnya. bocah bersuara malaikat ini berasal dari tajikistan, negeri pecahan uni soviet yang hingga kini masih dihantui paranoia terhadap gerakan para ekstremis islam sayap kanan. akibatnya, pemerintah setempat memberangus setiap madrasah yang disinyalir menjadi tempat penyebaran para ekstremis meski nyatanya kebijakan tersebut seringkali salah sasaran. malangnya, salah satu yang jadi korban adalah madrasah tempat nabiollah belajar.

lain nabiollah, lain pula rifdha. gadis ini berasal dari maladewa, negara kepulauan yang harus menggunakan pesawat perintis untuk menjangkau satu tempat ke tempat lainnya. yang unik dari bocah ini, adalah perbedaan pendapat antar kedua orang-tuanya. sang ibu ingin rifdha mengambil pendidikan yang bisa memberinya profesi yang menjanjikan, sedangkan ayahnya ingin rifdha belajar agama sehingga kelak bisa menjadi seorang ibu yang baik. lalu apa kata rifdha? dia malah pengen jadi petualang! haha.

yang terakhir adalah djamil. bocah legam yang satu ini datang dari negeri di ujung barat afrika: senegal. ayahnya adalah imam masjid setempat yang mendidik bocah ini sedari kecil untuk mengikuti jejaknya. momen paling mengharukan adalah saat giliran djamil tampil di depan dewan juri. kemampuan bocah ini tidak kalah dengan yang lain, namun dia tampak kesulitan memahami instruksi dewan juri. dia-pun nervous bukan kepalang hingga melakukan banyak kesalahan. di atas panggung, air mata djamil menetes dan dia mulai menangis. akhir kata, djamil tersingkir sebagai salah satu kontestan dengan nilai terendah. untungnya para dewan juri bijaksana. melihat kegigihan si djamil kecil dalam membaca alquran, mereka lalu menyuruh djamil ‘tampil’ lagi membacakan alquran di salah satu masjid besar di kairo. kali ini djamil berhasil, dan dia-pun disambut hangat banyak orang.

di luar kisah tentang ketiga bocah diatas, koran by heart memberi banyak gambaran unik tentang wajah islam saat ini. misalnya tentang ayah rifdha yang menyebut umat muslim di mesir sebagai muslim yang tidak baik hanya karena banyak diantara mereka yang tidak berjenggot dan mengenakan celana melewati mata kaki. bagian paling menyentuh dari film ini jatuh pada adegan di suatu senja di bibir pantai saat ayah rifdha menjelaskan alasan mengapa ia begitu ingin anaknya tersebut pergi menuntut ilmu ke luar negri demi menjadi seorang ibu yang baik kelak.

kata ayah rifdha, “a man is a single person, but a woman is a nation..”
___________
makasi banyak teh riana yang udah nunjukin film ini, sedap!

tentang toleransi di pelataran al bina

Juli 30, 2011

satu kejadian menarik saya temui saat hendak merangsek menuju stadion GBK demi menyaksikan pertandingan timnas indonesia melawan turkmenistan, dua hari yang lalu. saat itu saya tengah berada di pelataran masjid al bina yang terletak di kompleks GBK senayan. tanpa sengaja, di tempat itu saya bertemu dengan salah satu jurnalis musik yang telah lama saya gandrungi. dia memang penggila sepakbola, jadi saya tidak heran menemukan dirinya di kompleks GBK hari itu. tapi menemukan dia juga ada di pelataran masjid al bina adalah suatu hal yang aneh, karena setau saya dia adalah seorang nasrani. jarum jam telah menunjuk angka enam, harusnya dia sudah bergegas menuju stadion GBK karena kick off akan digelar dalam waktu kurang dari satu jam. lalu untuk apa dia ada di pelataran al bina?

kebingungan saya terjawab selang beberapa menit kemudian. ternyata sang jurnalis tadi sedang menunggu seorang teman muslimnya yang sedang ibadah magrib di masjid al bina. mungkin terdengar sederhana: seorang nasrani yang menunggu teman muslimnya beribadah sebelum kemudian menonton pertandingan sepakbola bersama-sama. tapi buat saya toleransi semacam ini sangatlah indah untuk disaksikan, terlebih melihat kondisi negara saya belakangan ini.

di bawah kepemimpinan menteri agama yang gobloknya bukan main, toleransi dalam kehidupan beragama di indonesia bagai sebuah hal yang obscure saat ini. sebutlah, tragedi cikeusik, kasus HKBP di bekasi, kasus ahmadiah dan jemaat GKI di bogor, semuanya terjadi dan terus berlarut-larut atas suatu alasan yang sebetulnya sangat sangat sangat sederhana: perbedaan kepercayaan.

indonesia sudah terlahir heterogen sejak ribuan tahun yang lalu. dengan pengalaman seperti ini, aneka persoalan terkait perbedaan keyakinan antara satu golongan dengan golangan lain harusnya tidaklah terlampau sulit untuk diselesaikan. sayangnya, si menteri agama goblok ini tidak melakukan terobosan signifikan apapun (bahkan) hingga saat ini, saat segala masalah tadi terlanjur membesar dan terlalu rumit untuk diselesaikan. lucunya dengan segala ketidakbecusan-nya, sebagai menteri agama, dia masih saja nekat untuk mencalonkan dirinya untuk kembali menjadi ketua umum PPP yang notabene-nya adalah partai islam. dan sialnya, dia menang.

buat saya, terlalu naif jika kita masih saja menunggu para pemimpin negeri ini untuk bersedia menangani persoalan toleransi dalam kehidupan beragama di indonesia. sebagian mereka hanyalah otak udang penyembah uang, bahkan menteri agama kita sekalipun. tapi akan salah juga jika kita menutup mata dan seolah tidak perduli dengan hal ini. pengalaman saya melihat apa yang terjadi antara seorang jurnalis musik nasrani tadi dan seorang kawan muslim-nya, menjadi bukti bahwa budaya toleransi dalam kehidupan beragama di indonesia masihlah tersisa. adalah tugas kita untuk memastikannya tetap ada dan terus terjaga.

*dalam pertandingan itu, indonesia mengungguli turkmenistan 4-3 dan menang agregat 5-4. apapun agama anda, mari berdoa agar timnas kita dapat melangkah sejauh mungkin menuju gelaran piala dunia 2014. amin.

magis dua setengah menit

Juli 21, 2011

pada suatu kesempatan john lennon pernah berujar bahwa dia punya satu lagu favorit dari sekian ratus lagu milik the beatles. lagu itu bukanlah ciptaannya, melainkan ciptaan paul mccartney, yang ditulis pada suatu hari di bulan juni ’66. alkisah, saat itu mccartney tengah duduk di tepi kolam renang di kediaman john lennon sembari menunggu bangunnya sang pemilik rumah yang saat itu tengah tidur. berawal dari E, lagu itu mengalir dan tercipta begitu saja tanpa pernah direncanakan sebelumnya.

saya sendiri belum pernah membaca komentar paul mccartney mengenai makna dibalik lirik yang dia buat untuk lagu tersebut. beberapa orang berkata bahwa lagu tersebut diperuntukkan pada seorang gadis bernama jane asher yang saat itu tengah dekat dengan mccartney. entah benar atau tidak. kalaupun dugaan itu benar, maka sungguh beruntung gadis bernama jane asher itu.

mungkin banyak yang menganggap lagu itu tercipta secara tidak disengaja, bahkan oleh sang pencipta-nya sekalipun. namun faktanya lagu itu mampu bersemayam dalam benak jutaan fans the beatles dan mewakili sisi lembut dalam diri mereka. buat saya sendiri, lagu tersebut punya magis yang saling bertolak belakang: pada satu sisi memberi kekuatan namun juga memberi rasa takut pada sisi yang lain. jane asher seolah mampu membuat mccartney begitu terpukau, sekaligus inferior pada saat yang bersamaan. manusia adalah penguasa rantai makanan, namun seringkali takluk oleh suasana hati mereka sendiri. lagu ini adalah representasi tepat untuk kondisi tersebut.

terlepas dua magis berlawanan diatas, tetap saja lagu ini selalu mampu meneduhkan tiap kali saya mendengarkannya. lagu ini mampu memastikan hati saya tetap bekerja dan merasakan apa yang seharusnya saya rasakan. itulah mengapa lagu ini selalu saya rujuk-kan pada orang-orang yang saya sayangi, lebih dari lagu-lagu the beatles manapun. karena lagu ini mampu membuat saya teduh, saya harap mereka juga merasakan apa yang saya rasakan saat mendengar lagu ini. lagu ini dimuat pada album terbaik the beatles versi saya, “revolver”, dan paul mccartney membubuhkan lagu ini dengan judul “here, there, and everywhere”.

__________________
*tulisan ini dibuat 45 tahun setelah “here, there and everywhere” ditulis, sekaligus satu bulan setelah ulang tahun paul mccartney yang ke-69. saat dia menyambangi jakarta tahun depan, saya harap lagu tersebut tercantum dalam daftar lagu yang akan dia bawakan.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.