andai demo semudah makan babi atau nggak
saya punya seorang sahabat, namanya mahdi. beliau adalah batak kristiani yang gemar makan daging babi. sebagai seorang batak yang cerdas sekaligus kristiani yang taat, dia tidak pernah memaksa saya untuk ikut tiap kali beliau hendak makan daging babi. kenapa? karena dia tau saya muslim yang tidak mengkonsumsi daging babi. saya-pun tidak pernah melarang dia untuk berhenti mengkonsumsi daging babi, karena apa yang saya percayai, belum tentu juga dipercayai oleh beliau. berkat sikap saling menghormati, hingga tahun kelima sejak pertama kali kami berkenalan, hubungan kami tetap harmonis tanpa pernah sekalipun bersinggungan akibat perbedaan prinsip yang kami anut.
kehormonisan ini tentu mustahil tercapai, jika yang terjadi adalah sebaliknya.
apa jadinya jika misalnya suatu hari mahdi tiba-tiba mendatangi kosan saya bersama teman-temannya sesama penggemar daging babi dan berorasi menuntut saya untuk mau ikut makan babi bersama mereka. atau sebaliknya, tanpa petir di siang bolong tiba-tiba saya dan teman-teman saya sesama non penikmat daging babi berdemo di depan kosan mahdi untuk menuntut mahdi berhenti menjadikan daging babi sebagai asupan kuliner sehari-hari.
absurd kan?
sebenarnya mahdi dan saya makan untuk tujuan yang sama: mengusir lapar agar tetap hidup sehingga dapat saling menjaga satu sama lain. perbedaannya hanyalah mahdi melakukannya dengan cara mengkonsumsi daging babi, sedangkan saya tidak. selesai. hingga kini kami tetap hidup sehat sentosa sebagaimana tujuan yang kami canangkan bersama, meski dengan cara yang berbeda. tanpa pernah sekalipun mempermasalahkan metode yang kami anut, apalagi mengklaim diri sendiri sebagai pihak yang benar dan yang lain adalah salah.
jadi kalau boleh jujur, agak aneh melihat aksi demo di depan kampus kami tempo hari. saat sekelompok mahasiswa tiba-tiba menggelar orasi untuk menuntut mahasiswa di kampus kami agar mau turun ke jalan bersama mereka, dan dengan sembrononya menyebut kami ‘banci’ dan ‘sampah pendidikan’. lagi pula, kalau kami memang ‘banci’ dan ‘sampah pendidikan’, untuk apa mereka mau repot-repot membuang tenaga membakar keringat di siang bolong demi mengajak kami bergabung dengan mereka? memangnya situ mau gabung sama apa yang situ sebut banci dan sampah masyarakat? lucu ya.
intinya sih, harapan kita mungkin sama. mahasiswa manapun pasti akan muak dengan performa rezim segitiga biru yang busuk dan impoten ini. hanya saja, buat kami demo bukanlah jawaban yang tepat untuk saat ini, yang seolah-olah membuat kami dan mereka terlihat bersebarangan, padahal sebenarnya tidak. terlebih jika dikaitkan dengan almarhum sondang. sebagian besar dari kami menganggap aksi almarhum tidak menyelesaikan masalah apapun, meski di lain sisi kami tetap berempati terhadap kepeduliannya pada negara ini.
sekarang adalah saat yang tepat buat kita untuk saling belajar menghormati opini orang lain. generasi terdahulu gagal melakukan yang satu ini. akan menyedihkan kalau kita hanya menjadi gerombolan anjing yang terjebak pada perangkap yang sama.

Babi itu harom.
http://kebenaranhanya1.wordpress.com/inilah-aqidah-kita/
jangan terlalu berharap “mereka” ngerti.
intelejensia selevel Babi seperti “mereka” tak bakal sanggup mencerna analogi sederhana anda.
mari berdoa saja emak “mereka” yang tiap hari merek di perempatan jalan masi kuat ngegoyang buat biayain hidup “mereka”
salam super.
@admin: out of topic, mas.
@rembrandt: thanks komentarnya. kalo mereka tetap ga bisa nangkep, yasudah tinggalin aja, iye ga. hehe. btw next time sebisa mungkin jauhi penggunaan kata kasar ya mas. salam super
@risyad : sori,kebawa emosi juga saya tadi.dihapus aja kalo ngga mau blognya terkotori. salam super,hehe
halo risyad, tulisanlo yg ini bagus banget. love it
salam kenal ya, gw sasa, temennya wana sama agra hehe
@rembrandt: santai, ga akan diapus juga kok mas, hehe. thanks ya, salam super juga!
@sasa: halo sasa. makasi udah sudi mampir kesini. gw juga abis jalan2 ke blog lo nih. situ fotografer juga ya? wah asik. sama kaya agra dong brarti. salam kenal juga ya, hehe.