(masih) ada garuda di dada mereka
alkisah, lewat drama adu penalti yang ketat, timnas indonesia akhirnya berhasil mengalahkan timnas malaysia pada fase semifinal turnamen junior ASEAN U-15. namun wajah bayu sang kapten justru muram sore itu. kegagalannya mengeksekusi penalti, setelah sebelumnya bermain buruk sepanjang pertandingan, rupanya menjadi penyebabnya. semuanya semakin runyam saat lepas pertandingan, sang pelatih menggeser posisinya sebagai kapten untuk pertandingan final nanti. habis sudah. ban kapten tidak lagi melingkar di lengannya. kini bayu bagai raja yang kehilangan tahtanya.
kira-kira seperti itulah penggalan cerita garuda di dadaku (GDD) 2 yang baru saya simak beberapa hari yang lalu. tokoh bayu adalah representasi ideal bagi jutaan anak penggila sepakbola di negeri ini yang terkadang harus jatuh-bangun demi dapat terus memainkan permainan ini. dalam kasus bayu, dia harus membagi konsentrasi-nya dengan segala persoalan akademis, sekaligus permasalahan pribadi keluarganya, sembari terus menjaga performa-nya di lapangan hijau. hingga pada titik klimaks, bayu hampir menyerah.
di bawah arahan sutradara rudi soedjarwo serta salman aristo sebagai penulis skenario, jalan cerita GDD 2 yang sederhana secara tepat sasaran mampu menunjukkan kita betapa pentingnya faktor kerja keras dalam menjaga mimpi kita agar tetap berpijar. tidak hanya ditunjukkan oleh tokoh bayu, namun juga tokoh pak wisnu, sang pelatih yang rela pasang badan demi mempertahankan idealisme di tengah mencretnya sistem persebepakbolaan indonesia yang rawan akan intervensi berbagai kepentingan politik, yang pada akhirnya membatasi gerak dan fungsi seorang pelatih (bakrie, panigoro, apa kabar?).
kalaupun ada kelemahan pada film-ini, itu terletak pada betapa mudah-nya bayu keluar dari masalah: tiba-tiba berbaikan dengan teman laki-laki ibu-nya. tiba-tiba menyelesaikan permasalahan akademis sekolah dengan brilian. tiba-tiba masuk kembali ke dalam skuad timnas indonesia beberapa saat sebelum pertandingan tanpa mendapat hukuman setelah sebelumnya melakukan serangkaian tindakan indisipliner. tiba-tiba bermain baik di final (dan kembali menjadi pemain kunci) tanpa latihan.
tapi kelemahan di atas tidak-lah penting. GDD 2 bukanlah film rumit dengan plot yang didesain untuk membuat otak keriting. lebih dari itu, melalui perjuangan tokoh bayu (yang diperankan dengan sangat cool oleh emir mahira) dkk, film ini mampu menyalakan kembali semangat kita sebagai manusia indonesia, apapun bidang yang kita geluti. dan di atas itu semua, GDD 2 adalah wujud sahih betapa besar rasa cinta dan harapan yang dimiliki oleh bangsa ini terhadap permainan paling suci di muka bumi yang biasa kita sebut, sepakbola.

