saat pusara telah mengering
pesan pendek masuk ke hp saya saat perjalanan menuju bandung pagi tadi, memberi kabar tentang kepulangan ayah kawan saya yang terjadi begitu mendadak. untungnya segala urusan saya di bandung dapat selesai dalam sehari hingga saya bisa segera kembali ke jakarta untuk mengikuti prosesi pemakaman. rasanya ganjil karena baru sekitar seminggu yang lalu saya bertemu beliau dalam kondisi yang segar bugar, kini harus bertemu dalam kondisi yang sangat berbeda. kematian memang selalu menjadi misteri besar yang mustahil dapat terpecahkan sebelum dia sendiri yang datang sesuai tenggat yang telah ditetapkan. mungkin dia datang lima puluh tahun lagi, tapi bisa juga saat ini dia telah berdiri mengintai di balik leher dan siap menerkam begitu anda selesai membaca paragraf ini. siapa yang tau?
tapi beruntung dunia pernah mengenal al-ghazali. ketimbang meratapi kematian, al-ghazali mengajarkan kepada kita bahwa kematian justru adalah awal dari kehidupan yang sesungguhnya. tentu setiap orang bebas untuk memilih percaya atau tidak pada ucapan mahaguru persia tersebut, sebagaimana saya sendiri yang memilih untuk mempercayainya. dan melalui kalimat pendek tadi, al-ghazali telah berhasil menuntun banyak orang untuk lebih bijaksana dalam menyikapi kematian.
di paragraf akhir ini, saat pusara telah mulai mengering, saya berdoa agar kepergian ayah kawan saya bisa mengantarnya pada kehidupan yang jauh lebih mulia dan kekal di sisi Dia Yang Maha Segalanya. serta kepada yang ditinggalkan, agar mereka diberi kesabaran untuk dapat ikhlas menerima apa yang telah digariskan.
kematian kembali menjalankan tugasnya dengan baik hari ini, kepada ayah kawan saya. selanjutnya, mungkin giliran kita.
